Rabu, 02 Agustus 2023

Malam - malam menjelang imtihan

                                      Ilustrasi Santri (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)


Satu jam telah berlalu, aku berjalan-jalan seputar pondok

Berhenti seenaknya lalu memandang ke langit kelabu yang dahsyat ...

Aku masih tetap diam, membayangkan soal-soal yang aneh antara suka dan duka dalam hapalan yang menyendiri

Pada malam harinya ia mendekatiku, dan menatap wajahku lama sekali ...

Seolah akan mencampakkan gambaran Nahwu dan Shorof yang telah menyingkapkan rahasia hadist yang keras, pikiranku jadi kacau dan mataku sarat dengan kabut Mutholaah.

Sekarang aku hendak pergi menembus malam yang berprahara ini, untuk merasakan akrabnya ekspresi imtihan.

Itulah suatu kebiasaan yang sangat aku senangi pada musim Syafahi dan musim Tahriri. Disini ada Tafsir dan Fiqih, anggap saja rumah sendiri.

Besok pagi saat anda meninggalkan kamar ini, aku mohon kuncilah pintunya agar terhindar dari gangguan maling kebodohan, karena besok aku berencana akan menghabiskan siang dihutan Imtihan yang bercadar suci.

Ia melangkah menuju pintu dengan membawa tongkat Mahfudjot lalu berkata mengakhiri.

Jika prahara mengejutkan anda disaat anda berada disekitar ruang Imtihan jangan ragu untuk berlindung kepertapaan Mufrodat.

Aku harap anda mau belajar mencintai prahara, bukannya takut.

Selamat malam saudaraku ...

Aku berdiri dipintu untuk melihat apa yang telah engkau pelajari, namun ia telah lenyap dari pandangan ...

Selama beberapa menit aku masih mendengar suara langkah hafalanmu menginjak bebatuan di pondok ini.

Harga dirimu

Pada awal tahun ajaran baru, seorang guru berdiri di depan murid-muridnya sambil memegang uang kertas Rp. 100.000 Dia mengatakan kepada ...